Kamis, 16 September 2021
Selasa, 10 Desember 2019
Jambore
JAMBORE
SEBAGAI MODEL
Tentu ada yang bertanya, mengapa
kegiatan akbar SEKAMI ini diberikan nama “ Jambore”? Apa kaitan jambore dengan
SEKAMI? Bukankah jambore lebnih identik dengan kegiatan Pramuka?
Secara etimologis, Kata “ jambore”
berasal dari istilah bahasa inggris “jamboree”. Kamus bahasa Inggris
menjelaskan makna kata “Jamboree” yang artinya kira-kira “sebuah perayaan atau
pesta besar uang melibatkan massa yang banyak dan riuh”. Sementara itu, dalam
kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (Cetakan ke-5 edisi IV, Januari 2013)
istilah “Jambore” berarti “pertemuan besar para pramuka”. Dari dua makna
tersebut, paling tidak kita bisa memahami arti yang selama ini berkembang bahwa
jambore merupakan sebuah kegiatan kepramukaan yang diikuti oleh massa dalam
jumlah yang besar.
Lalu
bagaimana dari aspek historis penggunaan istilah “ jambore”? Menurut Kamus
Oxford Kanada, kata jambore sudah digunakan sejaka abad ke-29 yang tidak
diketahui asalnya. Penyair Robert W. Service menggunakan istilah ini jauh
sebelum Jambore Dunia I diselenggarakan. Sementara lagu Athabaska Dick yang
dipopulerkan oleh Rolling Stone (1912), “jambore” berarti sebuah pertemuan
besar yang gaduh (riuh)”.
Pada Jambore Dunia I di Olympia, Inggris
(1920), Baden- Powell menyatakan bahwa banyak orang mengartikanm “jambore”
secara berbeda. Namun, mulai tahun ini, jambore akan dimaknai secara spesifik,
yakni dikaitkan dengan pertemuan pemuda terbesar yang pernah ada. Sedangkan,
Olave Baden-Powell (istri Baden-Powell) menciptakan istilah “jambore” yang
merujuk pada bahasa Prancis. Istilah ini digunakan oleh para Pandu dari berbgai
bahasa dan kebiasaan budaya yang sedang mengadakan peremuan, baik lokal maipun
internasional (bdk. Ensiklopedi Pramuka Penggalang).
Itulah
aspek etimologis dan historis dari istilah “jambore”. Dari sini kita bisa
menarik benang merah tentang jambore : sebuah pertemuan besar (Jumlah masa dan
asal-usul), ramai, menjunjung persahabatan dan mengharagai berbedaan, dan
diselenggarakan di tempat terbuka sehingga mampu menampung massa.
Jika gelaran massal SEKAMI nasional
dinamakan “jambore”, ide yang hendak diadopsi ialah suasana jambore tersebut.
Yakni, jumlah massa yang banyak, sarana dan prasarana yang terbatas jika
dibandingkan dengan fasilitas rumahan sehari-hari, aneka kegiatan bersama yang
saling menghargai, dan sebagian besar aktivitas diselenggarakan di alam
terbuka.
Nah, dalam konsep jambore yang demikian,
peserta diajak untuk keluar dari zona
nyaman kehidupan sehari-hari, menjadikannya sebagai tantangan untuk tetap
menemukan sukacita dalam kesederhanaan dan keterbatasan yang ada, berani
menghargai dan membagikan kekhasannya masing-masing demi saling memperkaya
sebagai sesama anak-anak Allah.
Kiranya, kondisi tersebut bisa menjadi
gambaran bahwa inilah tantangan yang dihadapi oleh setiap murid kristus yang
dipanggil untuk menjadi misonaris bagui Tuhan yesus. Mereka harus berani keluar
dari diri sendiri (egoisme), menjumpai yang lain, dan berbaghai sukacita dalam
kebersamaan (Childer helping Children)
Maka, sangat diharapkan, jambore bisa
menjadi medan perjumpaan untuk saling belajar dan berbagi sesama murid kristus
dalam upaya menjadi misionaris bagi-Nya.
Berpusat Pada Kristus
REMAJA SEMAKIN BERPUSAT PADA KRISTUS
(RP. Nugroho Krisusanto)
Salam damai dalam Kristus,
Gerak Jambore
Kaum Remaja se-Kevikepan Bangka Belitung, 30 Mei – 2 Juni 2019, merupakan
bentuk komunikasi luar biasa yang dilakukan oleh kaum remaja Katolik.
Dalam kesempatan
tersebut, kaum remaja dari 7 (tujuh) paroki berkumpul di ujung Barat Pulau
Bangka (Belinyu). Kebersamaan selama tiga malam membuat mereka tidak hanya
saling mengenal, tetapi juga berlatih untuk berbela rasa. Kaum remaja diajak
untuk saling peduli; hal ini tampak dari betapa beratnya mereka untuk berpisah
pada tanggal 2 Juni.
Jambore tahun
ini mengambil tema “REMAJA
SEMAKIN BERPUSAT PADA KRISTUS”. Berpusat berarti menuju, berpegang, mencontoh. Pokoknya
Yesus Kristus menjadi model setiap gerak kaum remaja Katolik Kevikepan Bangka
Belitung.
1.
Saat Kaum remaja menuju kepada Kristus, mereka
sudah menentukan arah. Mereka bertekad apapun hambatannya, mereka tidak akan
berhenti sebelum mencapai Kristus. Untuk mencapai Kristus, mereka telah
menggunakan berbagai sarana: Ekaristi,
sharing Injil, saling meneguhkan, memanfaatkan gadget untuk semakin mengenal
Kristus, dll.
2.
Saat kaum remaja berpegang pada Kristus,
mereka sudah memantapkan diri bahwa tidak ada pegangan lain selain Kristus.
Mereka bertekad untuk membangun rumah di atas wadas; tidak
goyah walaupun diterjang angin taufan maupun hujan badai. Sekalipun demikin,
mereka harus waspada terhadap angin sepoi-sepoi.
3.
Saat Kaum remaja mencontoh Kristus,
mereka bertekad memahami siapa Yesus itu. Yesus Kristus adalah pribadi yang
penuh belas kasih, penyabar, toleran.
Dengan pengenalan ini, kaum remaja Katolik Kevikepan Bangka Belitung bertekad
untuk tidak hanya melihat kepentingan dirinya, tetapi juga berusaha melihat
kepentingan bersama.
Itulah kira-kira
yang dialami kaum remaja Kevikepan Bangka Belitung selama mengikuti Jambore. Bagi
kaum remaja: Selamat melanjutkan spirit jambore.
Terimakasih
banyak kepada banyak pihak yang telah mendukung terselenggaranya Jambore ini;
Paroki Belinyu sebagai tuang rumah, Komisi Karya Misioner sebagai penyelenggara,
para Pastor Paroki se-Kevikepan Bangka Belitung yang telah berpartisipasi, Para
penampil dari lintas Agama di Belinyu yang telah ikut memeriahkan pembukaan
Jambore, dan Bimas Katolik Kemenag Propinsi Bangka Belitung yang telah
memberikan dukungan secara intens.
Semoga semua
yang telah terlaksana dengan baik, akan berlanjut dengan baik pula. Tuhan
memeberkati.
Remaja Istimewa
JAMBORE
2.....REMAJA ISTIMEWA.....
(RD. Indra Jati Santoso)
“Jambore
II Remaja Istimewa”.....ungkapan ini memang layak disematkan untuk menamai
suasana kegiatan Jambore II Remaja se-Kevikepan Bangka Belitung, yang tahun
2019 ini mulai disebut sebagai JANGKAR (Jambore Bangka Belitung Kerasulan Anak
Remaja). Pertanyaannya, di mana letak istimewanya?
| Remaja melayani dengan bakatnya |
Sebagai
suatu kegiatan, JANGKAR 2 ini tentu tidak beda amat kemasannya dengan konsep
kegiatan jambore sebelumnya. Keistimewaan JANGKAR 2 ada pada pilihan tema, yaitu
“Remaja semakin Berpusat pada Kristus”. Tema ini menjadi kerangka seluruh kegiatan
dari sejak persiapan (pembentukan panitia dan kegiatan pengajaran bagi remaja),
saat selebrasi atau hari H, dan setelahnya (evaluasi kepanitiaan dan
rencana-rencana followup pendampingan
bagi remaja di paroki-paroki). Tema pilihan adalah penjabaran kontekstual dari
prioritas pastoral Keuskupan Pangklapinang untuk 2019. Artinya dengan cara ini,
semua remaja di seluruh paroki yang ada di wilayah Kevikepan Bangka Belitung
secara perlahan dan bertahap diarahkan pada proses membangun kesadaran diri
sebagai anggota Gereja di Keuskupan Pangkalpinang.
Dari
kemasan setiap kegiatan yang penuh sukacita selama selebrasi JANGKAR 2, membuat
saya menemukan inspirasi segar bahwamestinya seperti itulah Gereja dari hari ke
hari hidup dan bertumbuh, dan bukan dengan muram-penuh beban. Sukacita para
remaja di JANGKAR 2 ini menjadi stimulus tumbuhnya semangat baru yang mesti
terus dihidupkan oleh Gereja dalam memahami, menghayati dan mewujudkan sasaran
imannya, berpusat pada Kristus. Saya sungguh kagum dengan geliat semangat dan
antusiasme para remaja (Gereja muda), dalam memaknai komunitas beriman mereka.
Cukup sederhana, realistis namun kreatif dan penuh pengharapan.
Terimakasih
kepada seluruh pihak: Para Pastor Paroki, Organ PIPA Kevikepan Babel (khususnya
Komisi BIAR dan Komisi Kepemudaan), Bimas Katolik, Donatur, Umat Paroki
Belinyu, Seksi dan animator-tris BIAR Paroki se-kevikepan Babel, para
sukarelawan, dan semua yang telah mendukung dan terlibat penuh dalam
menyukseskan agenda dua tahunan ini. Semoga upaya kita menjadi berkah bagi
kehidupan Gereja di masa mendatang.
Remaja Bermisi
REMAJA
SEMAKIN MENGENAL KRISTUS DAN BERMISI
![]() |
| Bermisi membutuhkan komitmen |
Jambore
Bangka Belitung Kerasulan Anak Remaja II
(Jangkar II) 2019 menjadi ruang dan peluang bersama bagi anak- anak
remaja dan para animator untuk menunjukkan spirit misi yang telah mereka hidupi
selama ini. Di ajang Jangkar II inilah mereka hendak mengenang kembali
bagaimana gaung spiritualitas missioner yang dicetuskan oleh Mgr. Charles
Aguste Marie de Forbin Jonson, 175 tahun lalu itu tetapi tetap memberi bagi
hidup saat ini. Selain itu, Jangkar II menjadi salah satu sarana dan upaya
untuk mengalami dan merasakan lebih mendalam persekutuan murid-murid yang
diutus dalam kegembiraan dan sukacita. Jangkar II juga menjadi arena bagi
peserta untuk menggembangkan antusiasme
misioner dalam semangat Doa, Derma, Kurban dan Kesaksian (2D2K).
Dasar
nilai-nilai spiritualitas SEKAMI yang diwartakan oleh Mgr. Charles tersebut
diberi bentuk sesuai dengan tahun pastoral umat Keuskupan Pangkalpinang 2019
yakni, “Umat Allah Keuskupan Pangkalpinang semakin berpusat pada Kristus”. Para
remaja dan animator telah mendalami modul-modul tentang identitas dan karya
pewartaan Yesus. Melalui studi dan pedalam modul-modul ini, para remaja semakin
mengenal dan mencintai Yesus secara mendalam. Para remaja diajak untuk
menyadari kembali panggilan mereka sebagai seorang misionaris yang diutus untuk
saling membantu sesama anak (children
helping children). Sikap solider ini diwujudkan dalam 2D2K.
Tuhan
Yesus memanggil para remaja dan mengutus mereka menjadi remaja-remaja misioner
yang mewartakan sukacita Injil kepada siapa saja yang mereka jumpai. Para
remaja berdoa dan berderma bukan hanya untuk diri mereka sendiri tetapi juga
untuk para sahabat mereka yang berada di berbagai tempat. Mereka berderma bukan
berarti karena mereka kelebihan tetapi mereka berderma dari kekurangan mereka,
seperti si Jnda miskin yang memberikan seluruh jaminan hidupnya (Mrk 12:42-43),
begitu juga para remaja dalam keterbatasannya mereka berbagi kepada sesamanya.
Untuk itu, mereka berani mengurbankan dirinya, waktu, tenaga, materi dan
keinginannya demi bersolider dengan teman-teman mereka. Nilai-nilai Injil
mereka wujudkan dalam aksi-aksi nyata mereka.
![]() |
| memakai fasilitas yang ada untuk bermisi |
Jangkar
II telah menjadi arena bagi para remaja untuk mengekspresikan semangat misioner
mereka. Melalui alur proses acara Jangkar II, para remaja telah membentuk
persekutuan hidup bersama dalam KBG-KBG yang diwarnai dengan persaudaraan dan
cinta kasih. Keakraban, sukacita, saling memperhatikan, doa bersama, sharing
Injil dan disiplin hidup di KBG-KBG menjadi kunci kesuksesan Jangkar II. Di
samping itu, kerja keras dan kerja sama dari panitia membuat Jangkar II
berhasil baik. Seluruh proses Jangkar II
mulai dari masa persiapan, acara puncak dan perutusan bertujuan mengatar
orang-orang untuk bersukacita mewartakan Injil. Laetentur Insulae Multae
Keuskupan Pangkalpinang
BAB I
SELAYANG PANDANG KEUSKUPAN PANGKALPINANG
SELAYANG PANDANG KEUSKUPAN PANGKALPINANG
A.
KEUSKUPAN
PANGKALPINANG
1.
Definisi
Keuskupan
Keuskupan adalah
istilah untuk menyebut bagian umat
katolik yang tinggal dalam suatu
daerah dengan batas-batas tertentu, dengan seorang uskup sebagai
pemimpinnya. Tugas seorang uskup adalah
mempersatukan seluruh katolik di wilayah yang dipimpinnya melalui: Ajaran iman,
ajaran moral dan ibadat ilahi. Tugas-tugas ini dilaksanakan oleh uskup bersama
dengan para pembantunya, yakni para Imam dan diakon. Uskup, imam dan diakon disebut juga klerus. Mereka ini hidup selibat dan bersama-sama menggemban
tugas perutusan Gereja untuk menjamin keberlangsungan hidup rohani umat
katolik, dan Pembina warga masyarakat menjadi lebih baik.
Keuskupan
disebut juga gereja particular, dalam hubungannya dengan gereja semesta yang
dipimpin oleh seorang Paus di Vatikan. Vatikan menjadi pusat pemerintahan
gereja katolik sedunia. Paus menjadi pemimpin tertinggi pemerintahan gereja
katolik sedunia inilah yang berhak mendirikan suatu keuskupan, setelah
mempertimbakannya dengan bijaksana.
Pada umumnya
suatu keuskupan dibagi lagi ke dalam wilayah-wilayah yang lebih kecil, yang
sering disebut paroki. Di paroki-paroki
itulah para pembantu uskup, yaitu para pastor dan diakon bekerja dan mengambil
bagian pada sebagian tugas uskup. Para pastor dan diakon di paroki atau di pastoral kategorial lainnya
sebagai perpanjangan tangan uskup. Mereka bekerja demi kesejateraan rohani umat
katolik di wilayah masing-masing dan memastikan bahwa pendidikan iman dan moral
umat katolik juga berlangsung dengan baik di tengah masyarakat.
2.
Data
Keuskupan Pangkalpinang
a.
Tahap
Pendirian Keuskupan Pangkalpinang
Paus sebagai
pemimpin tertinggi tidak serta merta langsung mendirikan Keuskupan
Pangkalpinang begitu saja. Keuskupan ini didirikan dengan proses yang
panjang serta perhitungan yang bijaksana
dan matang melalui beberapa tahap.
Tahap pertama,
pada awalnya dibentuk Prefectur Apostolik (27 Desember 1923), yakni bentuk
otoritas rendah untuk suatu wilayah pelayanan dalam Gereja Katolik Roma yang
dibentuk disebuah daerah misi dan di Negara yang belum memiliki keuskupan. Prefektur Apostolik dipimpin oleh seorang
prefek apostolik, yang biasanya adalah
seorang pastor. Setelah dibentuk prefektur apostolik pada tahun 1923, baru
ditahun berikutnya paus menunjuk seorang pastor untuk bertindak sebagai
pemimpin untuk wilayah baru ini. Secara berturut-turut pastor yang pernah ditunjuk sebagai pejabat perfektur adalah: Mgr.
Theodorus Herkenrath, SS.CC (Prefek Apostolik 1924-1928), Mgr. Vitus Bouma,
SS.CC (Prefek Apostolik 1928-1945), Mgr. Van Soest, SS.CC (Administrator
Apostolik 1945 -1951).
Tahap kedua,
pada tanggal 8 Februari 1951 paus
meningkatkan status dari prefektur
apostolik manjadi vikariat apostolik, yaitu bentukotoritas yang lebih tinggi
untuk suatu kawasan dalam Gereja Katolik
Roma, yang dibentuk dalam wilayah misi di Negara yang belum memiliki keuskupan.
Setelah status ditingkatkan, paus juga menunjukpejabat baru untuk memimpin
yakni Mgr. Gabriel Van Der Westen, SS.CC (Vikariat Apostolik 1951-1961).
Tahap ketiga,
pada tanggal 3 Januari 1961, secara
resmi paus meningkatkan status untuk wilayah vikariat apostolik Pangkalpinang
menjadi keuskupan. Awalnya keuskupan
Pangkalpinang dipimpin oleh seorang administrator yang ditunjuk oleh paus, yani
Mgr. Rolf Reichenbach, SS.CC (Administrator Apostolik 1979-1987). Setelah
beberapa tahun kemudian, paus memilih
seorang uskup baru secara definitip, yakni Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD (1987-
April 2016). Pada bulan April 2016 Mgr.
Hilarius Moa Nurak, SVD wafat, maka paus mengangkat seorang administrator
apostolik untuk memimpin Keuskupan Pangkalpiang, yakni Mgr. Yohanes Harun Yuwono
(Administrator Apostolik April 2016 – 21 September 2017). Setahun kemudian Paus mengangkat uskup
berikutnya yakni Mgr. Adrianus Sunarko, OFM (2017 – sampai sekarang)
b.
Wilayah
Pelayanan Keuskupan Pangkalpinang
Wilayah
pelayanan Keuskupan pangkalpiang tidak ditetapkan menurut batas-batas
pemerntahan sipil dalam suatu Negara atau tingkat pemerintahan daerah. Wilayah
pelayanan keuskupan Pangkalpinang didasarkan pada efektifitas jangkaun karya
pelayanan, dengan memperhatikan aspek cultural dan sosial masyarakat setempat.
Dengan demikin wilayah pelayanan suatu keuskupan bisa saja hanya berada di
suatu lingkungan ilayah pemerintahan daerah setempat, tetapi bisa juga mencakup
beberapa wilayah pemerintahan daerah. Wilayah pelayanan Keuskupan Pangkalpinang
meliputi tiga provinsi atau wilayah pemerintahan daerah.
1.
Provinsi
Bangka Belitung
Wilayah pelayanan Keuskupan
Pangkalpinang meliputi daerah Tingkat
II: Kota Madya Pangkalpinang, Kabupaten
Banngka, Kabupaten Bangka Tengah, Kabupaten Bangka Barat, Kabupaten Bangka
Selatan, Kabupaten Belitung dan Kabupaten Belitung Timur.
2.
Provinsi
Kepulauan Riau
Wilayah pelayanan ini meliputi
daerah Tingkat II: Kota Madya Tanjung Pinang, Kota Batam (Otorita Batam),
Kabupaten Kepulauan Riau, Kabupaten
Karimun, Kabupaten Lingga, Kabupaten Anambas dan Kabupaten Natuna.
3.
Provinsi
Riau
Wilayah pelayanan ini meliputi daerah yang masuk dalam
kabupaten Indragiri Hilir. Namun, sebelumnya wilayah ini berada di bawah
otoritas pelayanan Keuskupan Padang. Karena jarak pelayanan dirasa lebih dekat
ke wilayah Keuskupan Pangkalpinang, pada tahun 2006 wilayah ini diserahkan
kepada otoritas pelayanan Keuskupan Pangkalpinang. Wilayah ini sekarang berada
di wilayah pelayanan Paroki St. Yosef,
Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau.
c.
Luas
Wilayah Keuskupan Pangkalpinang
Luas wilayah pelayanan Keuskupan
Pangkalpinang (termasuk Laut) lebih dari 270. 212 km². Sementara luas pelayanan daratan lebih dari
35. 422 km².
d.
Jumlah
Umat Katolik
Berdasarkan data
statistik yang dicatat oleh
Keuskupan Pangkalpinang tahun 2011 jumlah umat katolik 51.535 jiwa. Jumlah umat ini tersebar di tiga provinsi
wilayah pelayanan, yakin Bangka Belitung, Kepulaun Riau dan Riau.
Wilayah
pelayanan di Bangka Belitung jumlah umat katolik tersebar di tujuh paroki
yakni: Pulau Bangka: Katedral St. Yosef,
Paroki St. Bernadeth, Paroki St. Fransiskus Xaverius, Paroki Santa Perawan
Maria Pengantara Segala Rahmat, Paroki Santa Maria Dikandung Tanpa Noda, Paroki
Santa Maria Pelindung Para Pelaut; Pulau Belitung: Paroki Regina Pacis.
Sedangkan di
Kepulauan Riau ada delapan paroki, yakni:
Batam: Paroki St. Petrus, Paroki St. Damian, Paroki Kerahiman Ilahi,
Paroki Maria Bunda Pembantu Abadi, Paroki St. Hilarius. Tanjung Balai: Paroki
St. Yosef. Tanjungpinang: Paroki Hati Santa Maria Tak Bernoda. Lingga: Paroki
St. Carolus Boromeus. Anambas: Paroki Santa Maria Bintang Laut.
e.
Alamat
Keuskupan Pangkalpinang
Alamat :Jl. Batu
Kadera 545 A, Semabung Lama, Pangkalpinang 33147, BANGKA
Nomor Telp/Fax : (0717) 424014; 423512
No. Pokok Wajib Pajak : 01.206.392.1.304
f.
Bagan
Organ Struktur Keuskupan
|
SEKRETARIS
|
|
KOORDINATOR
PIPA
SEKRETARIS
PIPA
KETUA +
ANGGOTA SEKSI
KOORDINATOR +
ANGGOTA FASILITATOR
|
|
BENDAHARA
|
|
VIKARIS JENDRAL
|
|
USKUP
|
|
DEWAN
PENGELOLA
HARTA
BENDA
|
|
DEWAN IMAM
|
|
DEWAN PENASEHAT
|
|
SEKRETARIS
KEUSKUPAN
|
|
EKONOM
|
|
VIKARIS
YUDISIAL
|
|
SEKRETARIS
GENERAL
PIPA
|
|
VIKARIS EPISKOPAL
|
|
SEKRETARIS
|
|
BENDAHARA
|
|
KOORDINATOR
PIPA
SEKRETARIS
PIPA
KETUA
+ANGGOTA KOMISIS
KOORDINATOR
+ANGGOTA
FASILITATOR
PASTOR
PAROKI
|
|
DEWAN
PASTORAL PAROKI
|
|
PASTOR
PAROKI
|
|
DEWAN
PENEGOLA
HARTA
BENDA PAROKI
|
|
KOMUNITAS
BASIS GEREJAWI
KETUA
SEKRETARIS
BENDAHARA
SEKSI-SEKSI
|
|
KOMUNITAS
BASIS GEREJAWI
KETUA
SEKRETARIS
BENDAHARA
SEKSI-SEKSI
|
|
KOMUNITAS
BASIS GEREJAWI
KETUA
SEKRETARIS
BENDAHARA
SEKSI-SEKSI
|
B.
Kevikepan Bangka
Belitung
1.
Definisi
Kevikepan
Kevikepan atau dalam istilah sebenarnya vikariat episkopal adalah sebuah
artikulasi keuskupan, yang memungkinkan adanya pelayanan yang partisipatif
dalam bidang pastoral dan administrasi gerejawi; baik yang menyangkut tindakan
administratif khusus maupun berhubungan dengan pengelolaan harta benda gerejawi
didalam wilayah teritorial kevikepan. Dalam pemahaman yang lebih sederhana
kevikepan di bentuk oleh Uskup dengan seorang pejabat Vikep (Vikaris Episkopal) dan para stafnya,
untuk menjamin terlaksananya tugas pelayanan dari tingkat yan lebih tinggi
(Keuskupan) kepada tingkat atau lingkup yang lebih spesifik atau lebih sempit.
Karena hakekatnya itu, maka Kevikepan merupakan ungkapan kesatuan dan kerjasama
antar-paroki berdasarkan teritorial suatu Kevikepan dan dengan Keuskupan.
Sebagaimana disebut diatas, kevikepan dilengkapi
oleh Uskup dengan seorang Vikep dan para stafnya. Jabatan Vikep dan juga para
stafnya masuk dalam struktur Organ Keuskupan, namun bersifat tidak tetap.
Karena alasan tertentu Uskup bebas untuk mengangkat atau memberhentikan dan
mengganti para pejabat Kevikepan. Seorang pejabat Vikep mengambil bagian dalam
wewenang eksekutif Uskup (sebagai pemegang tiga wewenang: legislatif,
eksekutif, dan yudikatif), untuk menjalankan peran tanggungjawab sebagai wakil
uskup dalam wilayah terbatas. Jadi bersama dengan Uskup, dan Vikaris General
(Vikjen, sebagai wakil Uskup untuk seluruh wilayah Keuskupan); Vikep termasuk
dalam jajaran Ordinaris Wilayah atau pemimpin wilayah Keuskupan
Secara
real Organ dan Struktur Kevikepan terdiri dari: Vikaris Episkopal (Vikep), Sekretaris,
Bendahara, PIPA (Pangkalpinang Intergal
Pastoral Approach) Kevikepan. Kelengkapan Organ dan Struktur inilah yang
menjadi instrument Keuskupan dalam menjalankan dan mewujudkan visi dan misi
Gereja Katolik di Keuskupan Pangkalpinan, bagi seluruh Umat Katolik. Karena
luas wilayah pelayanan yang meliputi tiga provinsi atau otoritas pemerintahan
daerah, dan demi efektivitas serta terjaminnya pelaksanaan tanggung jawab
pelayanan dan pendampingan iman Umat Katolik di seluruh wilayah Keuskupan, maka
dibentuklah dua wilayah Kevikepan. Satu diantaranya Umat di wilayah Bangka
Belitung (Kevikepan Selatan), dan satu lagi Kevikepan untuk wilayah Kepualauan
Riau dan sekitarnya (Kevikepan Utara).
2. Data Umum Kevikepan
Bangka Belitung
Tahun
Pendirian : Tahun 2013
Wilayah : Dua pulau utama
Provinsi Bangka-Belitung, yaitu Pulau Bangka dan Pulau Belitung
Luas
wilayah : Luas wilayah
keseluruhan termasuk lautan adalah 81.725,14Km²,
namun
jika hanya dartan kira-kira 16.424,14 Km².
Jumlah
Umat : 15.659 Jiwa (data
tahun 2011)
Jumlah
Paroki : Ada tujuh Paroki
yang menjadi tanggungjawab koordinasi
Kevikepan
Bangka Belitung, yaitu enam diantaranya terdapat di Pulau Bangka dan satu
Paroki yang lain terdapat di Pulau
Belitung.
Ketujuh Paroki yang dimaksud adalah: Paroki Katedral Santo Yosef-Pangkalpinang,
Paroki Santa Bernadet-
Pangkalpinang,
Paroki Santo Fransiskus Xaverius-Koba, Paroki
Santa Perawan Maria Pengantara Segala Rahmat-Sungailiat, Paroki Santa
Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda-Belinyu,
Paroki Santa Perawan Maria Pelindung Para Pelaut-Muntok, dan Paroki
Regina Pacis (Santa Maria Ratu Damai)-Tanjung Pandan.
Pejabat
Vikep : 1. RD. Fransiskus
Tatu Mukin (2013 - 2016)
2. RD. Stanislaus Bani
(2017- 2019)
3. RD. Fransiskus
Indra Jati Hendry Santoso (2019 sampai sekarang)
Alamat
:JL. Batu Kadera
545 A, Pangkalpinang 33147, BANGKA
Nomor
Telpon/Fax : (0717)424014;423512
Email :sekretariatpkpinang@gmail.com
Nomor
Telpon/Fax : (0717) 432178; Fax :
(0717) 432152
3.
Data
Personalia
Vikaris
Episkopal : RD. Fransiskus
Indrajati Hendry Santoso
Sekretaris
Kevikepan : RD. Alexius Jua
Bendahara
Kevikepan : Ibu Novita
Tim
PIPA Kevikepan
Koordinator : RD. Marsel Gabriel (Sekjen PIPA)
Sekretaris : Alfons Liwun
Anggota : 1. Koordinator
Komisi-komisi
2.
Pastor Kepala Paroki di wilayah Kevikepan
3. Utusan Lembaga Hidup
Bhakti di wilayah Kevikepan
4.
Koordinator Fasilitator Paroki
5.
Koordinator/Ketua seksi-seksi di Paroki
6.
Para Pastor Pembantu di setiap Paroki
Komisi-Komisi Kevikepan
1) Komisi
Kitab Suci :
RD. Ferdinandus Meo Mbupu
2) Komisi
Ibadat Ilahi :
RD. Yopi K Sogen
3) Komisi
Kepemudaan :
RD. Yosep Setiawan
4) Komisi
Bina Iman Anak & Remaja : RD.
Yosefus Anting Patimura
5) Komisi
Panggilan :
RD. Marcel Gabriel
6) Komisi
HAK & Keadilan-Perdamaian : RD.
Agustinus Dwi Pramodo
7) Komisi
Pendidikan :
RD. Aloysius Angus
8) Komisi
KBG :
RD. Stanislaus Bani
9) Komisi
PSE :
RD. Andreas Naraama Lemoro
10) Komisi
Lingkungan Hidup : RD. Alexius Jua
11) Komisi
Kerasulan Awam :
RD. Yohanes K. Jeharut
12) Komisi
Keluarga :
RP. Aloysius Fut Khim, MSF
Langganan:
Postingan (Atom)


