Selasa, 21 Oktober 2014

Optimis Vs Pesimis

Rakyat Optimis, Elite Pesimis
Eforia bangsa Indonesia menyambut Presiden Baru, Jokowi dan JK. Ini adalah sebuah sikap  optimisme bangsa terhadap pemimpin baru. Rakyat rela mengantri sepanjang hari menyambut kehadiran pemimpin baru. Ini adalah sebuah simbol kesetiaan dan loyalitas bangsa terhadap pemimpin baru. Rakyat memiliki ketulusan hati mendukung pemimpin baru, dan mereka menaru harapan bahwa pemimpin baru ini akan membawa perubahan. Perubahan itu adalah sebuah proses yang membutuhkan waktu, tenaga dan partisipasi aktif dari seluruh komponen bangsa ini.

Sehari setelah pelantikan Jokowi dan JK menjadi presiden dan wakil presiden VII, mulai muncul rasa pesimisme yang berlebihan bukan dari rakyat, tetapi dari Pers dan segelintir pengamat politik. TVONE, “Memang Beda”, menampilkan narasumber, terutama pengamat politik,  yang rata-rata tidak memiliki harapan hidup. Mereka meramalkan  Jokowi dan JK tidak akan mampu membuat perubahan sesuai dengan janji kompanye mereka.  Ada beberapa elite politik, seperti Fadli Zon,  langsung tagih janji dan meminta Jokowi dan JK langsung bekerja dan memberikan hasil. Andaikan Fadli Zon bisa melakukan itu rakyat akan memilihnya lalu memberikan predikat kepadanya “manusia separuh dewa”.

Senin, 20 Oktober 2014

Model Kepempinan Jokowi-JK



Kepemimpinan Jokowi-JK

Kepemimpinan adalah kemampuan yang dimiliki sesorang untuk mempengaruhi orang lain. Mempengaruhi orang lain untuk bekerja mencapai tujuan dan sasaran. Secara umum,  kepemimpinan boleh diartikan sebagai kemampuan untuk memberi pengaruh pada orang lain, sehingga mereka melakukan apa yang diinginkan atau dicita-citakan oleh sang pemimpin. Bisa kita katakan kepemimpinan adalah pengaruh.

H. Norman Scwarzkope mengatakan, “kepemimpinan adalah gabungan dari strategi dan watak. Jika anda harus memilih satu, maka pilihlah watak”. Hari Sabarno mengatakan,  “Pemimpin itu ampuh  namun tidak mematikan , tajam namun tidak melukai, cepat namun tidak mendahului, pandai  namun tidak menipu, dan selalu mawas diri”.  Menurut Ary Ginanjar Agustian, “ Pemimpin adalah seorang yang selalu mencintai dan memberi perhatian kepada orang lain, sehingga ia dicintai. Memiliki integritas yang kuat, sehingga ia dipercaya oleh pengikutnya.  Memiliki kepribadian yang kuat dan konsisten, dan yang paling penting adalah berlandaskan suara hati dan moral yang baik”. 
Dalam diri Jokowi dan JK telah memenuhi model kepemimpinan tersebut diatas. Yang paling menonjol dalam kemimpinan Jokowi dan JK  ke depan adalah: 
Integritas: Mereka akan melakukan sesuatu berdasarkan apa yang mereka katakan. Mereka akan berusaha maksimal menempati janji-janji waktu kompanye pilpres.
Optimis: Jokowi dan JK melihat Indonesia sebagai Indonesia Raya. Mereka memandang Indonesia sebagai sebuah kapal layar, yang sedang mengarungi samudera luas menuju perubahan dan peradaban, (pidato kenegaraan Jokowi).
Menyukai Perubahan: Jokowi dan JK memlihat adanya kebutuhan untuk perubahan, bahkan mereka bersedia dan menjadikan diri mereka sebagai agen perubahan itu. Perubahan yang paling konkret adalah Jokowi dan JK berani turun ke bawa: melihat situasi masyarakat secara langsung. Mereka mengulurkan tangan duluan untuk menyalami rakyat, bahkan lawan politiknya.
Berani menghadapi resiko: mereka berani menghadapi resiko, menghitung resiko dan mengambil nilai dibalik resiko itu. Inilah salah satu tipe kepemimpinan Jokowi dan JK selama lima tahun kedepan.
Ulet: Jokowi dan JK mengetahui persis perjalanan Indonesia kedepan, maka mereka akan berjuang meraih peluang itu. Oleh karena itu, mereka akan mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bekerja, bekerja, dan terus bekerja.
Katalistis: Jokowi dan JK telah menggerakan bangsa Indonesia untuk melangkah. Mereka telah mengajak rakyat Indonesia dari zona kenyamanan dan bergerak menuju tujuan mereka yang sesungguhnya.
Komitmen dan Dedikasi: Jokowi dan JK mempunyai tujuan untuk kebaikan Indonesia. Mereka ingin Indonesia berubah untuk kebaikan bersama. Untuk merealisasikan visi ini, mereka akan memberikan diri sehabis-habisnya untuk bangsa ini.

Minggu, 19 Oktober 2014

JOKO-SI



JOKOWI: Pemimpin Berjiwa Besar
Indonesia sangat beruntung memiliki seorang pemimpin seperti Jokowi. Dia adalah pribadi yang sederhana, jujur dan berjiwa besar. Jokowi adalah sosok pemimpin yang mampu merangkul semua orang, termasuk lawan-lawan politiknya. Sikap kerendahan hati Jokowi terlihat jelas  ketika dia berinisiatif datang mengunjungi Aburizal Bakrie dan Prabowo Subianto.  Jarang menjumpai pemimpin yang berhati mulia seperti ini, apa lagi di republik ini. Layak dan pantas Prabowo dengan Koalisih merah-putih-nya harus memberikan ucapan selamat dan mengunjungi Jokowi, namun, realitasnya terbalik, seorang Jokowi rela “turun” mengunjungi dan menyapa mereka. Secara politis, Jokowi telah mengajarkan kepada mereka tentang etika dan moral berpolitik di negeri ini.
Jokowi adalah sosok pemimpin yang patut ditiru dan digugu oleh rakyat bangsa ini, terlebih khusus para  elite politik. Dia memimpin bangsa ini dengan hatinya bukan dengan otaknya. Oleh karena itu, revolusi mental yang dikumandangkan Jokowi dan para relawannya selama ini tidak lain melukiskan kepemimpinan Jokowi dengan hati. Jokowi muncul sebagai pemimpin bukan karena kemampuan financial, dan bukan juga karena kehebatan berdiplomasi. Jokowi menjadi pemimpin karena DIA ORANG BAIK, DIA BERJIWA BESAR. Rakyat mampu melihat dua hal itu dalam diri JOKOWI. Kekuatan rakyat (people power) menyertai Jokowi, karena dia telah merealisasikan adagium vox Populi, vox DEI.